Kamis, 28 September 2017

Napak Tilas Sarekat Dagang Islam

Napak Tilas Sarekat Dagang Islam
Sejumlah lebih dari 40 siswa Sekolah Penerus Bangsa 2017 melakukan Wisata Sejarah Napak Tilas Pendiri Sarekat Dagang Islam, KH. Samanhudi di Sukoharjo pada Jumat, 22 September 2017. Kami mengunjungi beberapa tempat-tempat bersejarah yang berkaitan dengan sosok KH. Samanhudi.
Balaidesa Sondakan menjadi tempat pertama pemberhentian kami. Disini kami diceritakan mengenai perjalanan hidup KH. Samanhudi oleh Bapak Suwardi, S.Pd selaku pengelola Museum Sondakan. Tidak banyak orang tahu bahwa nama kecil dari KH. Samanhudi yang sebenarnya adalah Sudarnonadi, yang kemudian beliau berganti nama menjadi Samanhudi setelah menunaikan ibadah Haji pada tahun 1904. Samanhudi lahir pada tahun 1868 di Sondakan, Laweyan, Sukoharjo.
Di perjalanan berikutnya, kami mengunjungi Masjid Laweyan atau yang dulunya bernama Masjid Kyai Ageng Henis. Dimana masjid ini menjadi peninggalan KH. Samanhudi. Masjid ini merupakan salah satu masjid tertua yang ada di Solo. Dari bentuknya, sekilas nampak seperti bentuk Pura. Karena memang sebelumnya bangunan ini merupakan tempat pemujaan agama Hindu yang kemudian pada tahun 1546 beralih fungsi menjadi tempat ibadah agama Islam. Di sebelah selatan masjid ini juga terdapat Cagar Budaya yang dibangun pada tahun 2010.
Sebelum sampai di Masjid Laweyan, kami melewati sebuah tugu yang dibangun sebagai bukti Samanhudi yang telah berjasa di daerah Laweyan. Selanjutnya ada Jembatan Samanhudi yang menghubungkan Solo dengan Sukoharjo, dimana dibawahnya merupakan Kali Kabangan.
Dalam perjalanan menuju Makam KH. Samanhudi, kami melewati rumah pemberian Ir. Soekarno untuk KH. Samahudi karena jasanya sebagai salah satu Pahlawan Nasional. Rumah tersebut hingga kini masih ditinggali oleh keturunan KH. Samanhudi.
Adapun selanjutnya kami ziarah ke Makam KH. Samanhudi yang tepatnya berada di Desa Banaran, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo. Makam ini diberi penghargaan oleh negara sebagai Makam Pahlawan Nasional.
Kunjungan terakhir kami adalah Museum Sondakan. Museum ini menyimpan banyak cerita sejarah tentang KH. Samanhudi sebagai seorang pendiri Sarekat Dagang Islam. Ada juga kisah “Berguru pada Cokroaminoto” di museum ini. Terpajang lukisan seorang KH. Samanhudi, serta foto beliau dan juga kedua isitrinya. Istri pertamanya yaitu Suginah, perempuan yang menjadi pilihan dari seorang KH. Samanhudi untuk dinikahinya, yang pada akhir hayatnya dikuburkan di samping makam sang pelopor Ekonomi Kerakyatan ini. Kemudian istri keduanya yaitu Raden Mardingah yang dipilih oleh Keraton untuk dinikahkan dengan KH. Samanhudi.
Banyak kisah dari KH. Samanhudi yang tidak terkuak dalam cerita-cerita sejarah yang kita pelajari. Kisahnya tertutup oleh berbagai taktik politik para koloni Belanda pada masa itu. Bagaimana kemudian napak tilas ini menjadi sarana untuk mempelajari sejarah Sarekat Dagang Islam yang sebenarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar